Google+

Sering Ribut Urusan Hutang, Sebenarnya Siapa yang Paling Berhak Marah?

Hutang sering menimbulkan permasalahan ditengah-tengah masyarakat. Bagi yang berhutang selalu resah karena terus dikejar hutang. Namun, bagi pemberi piutang juga sering merasa galau. Karena ketika ingin menagih hutang, justru pemberi piutang yang dmarahi.

Bahkan permasalahan hutang ini sering menjadi bahan candaan. Penggambarannya, seperti ketika memohon pinjaman hutang bagaikan kucing, tapi ketika ditagih berubah jadi macan. Karena pihak yang berhutang justru marah-marah ketika ditagih, yang mana itu merupakan kewajiban dari penghutang.

Begitu juga, penagih hutang sering terlalu emosi ketika hendak menagih hutang. Seperti beberapa kasus rentenir, debt collector yang menagih hutang dengan semena-mena bahkan dengan kekerasan.

Hal ini yang menjadi timbul pertanyaan. Sebenarnya dalam hutang-piutang, siapa yang paling berhak marah? Mari kita bahas dari kedua sisi;

Pantaskah peng-hutang marah ketika ditagih?
Dari pihak yang berhutang biasanya ngotot tidak mau bayar hutang dengan berbagai alasan. Mulai dari alasan klasik tidak ada uang sampai menyalakan waktu penagihan.

"Siapa suruh nagih pas saya gak punya uang, ya gak bakal saya bayar sekarang"

Bagaimanapun hutang adalah kewajiban, kita mesti membayar ketika jatuh tempo. meskipun belum ada uang, gak sepantasnya marah pada penagih.

Kalau soal alasan ekonomi, satu hal yang perlu diketahui dalam berhutang. Sebaiknya hindari berhutang untuk konsumsi. Kalaupun terpaksa, jangan dibiasakan. Seharus hal ini mesti dipikirkan konsekuensinya dari awal berhutang. Karena hutang itu baiknya untuk sektor produktif, negara juga berhutang untuk sektor tersebut.

Pantaskah penagih hutang marah?
Secara logika kalau kita ingin menagih hutang pada orang lain mesti tegas, supaya orang takut dan bayar. Karena kan itu hak kita, uang kita yang harus diminta.

Tapi prakteknya tidak begitu. Kita juga manusia yang sama-sama butuh uang, jujur aja deh. Kita butuh uang, orang lain juga. Mungkin ada orang lain yang lebih butuh, termasuk orang yang berhutang. Apasalahnya mengikhlaskan piutang tersebut? Selama kewajiban pemberi hutang harus menagih sebanyak 3 kali.

Lalu bagaimana jika uang yang dipinjamkan berjumlah besar? Jika dalam konteks hutang secara resmi misal antar perusahaan, tentu sudah ada kesepakatan tersendiri. Namun sering kali hutang - piutang antar individu sering bermasalah ketika pembayaran macet. Inilah yang seharusnya dipikir dari awal, jangan asal memberi pinjaman kesembarangan orang yang gak dikenal apalagi dengan uang yang terbilang besar.

Terlepas itu semua, siapa yang pantas marah dalam hutang piutang ini, sebaiknya memang tidak pantas ada yang marah. Karena emosi itu gak baik, menyelesaikan persoalan dengan keadaan marah biasanya hasilnya gak baik.

Selama masing-masing pihak mengerti posisi masing-masing dan selalu menunjukkan itikad yang baik. Gak mustahil kok Persoalan hutang piutang ini akan terselesaikan dengan baik.

Tentang Penulis

Author Image

Rianda Prayoga
Orangnya gak banyak bicara, sedikit cuek tapi lumayan ramah. @riandaprayoga
Seorang Wiraswasta

Komentar

Baca juga yang lainnya